Monday, April 28, 2008

Sekolahan Buat Anak ?

Pusyiiiiing buangeet.....

Akhir akhir ini browsing browsing sekolah untuk Izhhar, hasilnya ? Cah Ndae......*maafken kalo kasar*

Gila ya sistem pendidikan di Indo ini, sekolah sekolah ukuran nya nggak jelas, bagus enggaknya Wallahualam bisawab, bayarnya bisa bikin ......*ndenger informasinya aja langsung jantungan*

Lha dulu aku ama si papa aja cuma sekolah SD negeri, sekarang cari SD negeri yang bagus? tolong ya kasi inpormasi kalo ada? *setengah nggak yakin eksistensinya* . Belum lagi para guru gurunya nggak cuma bisa ngajar tapi juga pintar bisnis.

Ya namanya anak (baru) satu pasti maunya ngasi yang terbaik dung, tapi kalo bisa yang nyambung ama pendidikan dia sebelumnya (disini). Jadi inget kata orangtuaku, kalau buat anak kepala bisa jadi kaki , kaki bisa jadi kepala. Tapi diatas segalanya adalah proses dan hasil yang halal dong kalo bisa, ya nggak?

Denger denger pendaftaran masuk SD itu sudah dimulai dari Desember, dilanjutkan tes tes untuk menguji kualifikasi si anak. Aku ketakutan banget anakku nggak punya waktu buat itu semua, secara....dia masih disini gitu lohhh.

Iseng browsing di ;

1. JIS (Jakarta International School) (Pondok Indah dan Cilangkap)
Biaya *fiuh* : min $ 10 000 /tahun (belum lain lain)

2. Sekolah Lazuardi Global Islamic School (Cinere)
Biaya pendaftaran :Rp 2 000 000
Biaya : uang pangkal :Rp. 24 juta something
Uang kegiatan tahunan : Rp. 1,4 jutaan
Uang seragam : Rp. 500 rebu something
Spp perbulan :Rp. 695 000 (nanggung, kaya harga barang barang mall)

3. Sekolah Madani
Uang pendaftaran : Rp 5000 000
Tuition Fee : *ambil nafas dulu * Rp 45 000 000/ 6 tahun
Biaya pendidikan : Rp 17 500 000
yang paling bikin lebih berat adalah kampusnya .... di Parung , Bogor.

Sampai disini udah mau nangis.
Terus kemarin Bu Muliaman bilang coba di Yasporbi aja.
Terus browsing, nggak kaya sekolah sekolah diatas, profilnya dan kurikulumnya nggak tertulis jelas, juga nggak ada nama nama besar seperti sekolah sekolah diatas, hanya dari 2 huruf belakangnya, menunjukkan dia dari yayasan BI . Besok aku mau coba telpon.
Mungkin nggak hebat banget, seenggak enggaknya bisa buat batu loncatan atau tempat penyesuain anakku setelah pulang, ....ah nggak mau terlalu berharap lah.

Btw, tentang sekolah sekolah diatas, aku menulis tanpa bermaksud arogan, hanya pengin nunjukin dan nyatet sekolah sekolah yang punya nama besar. Kalau soal kualitas, aku nggak tahu, semua kembali pada anaknya masing masing toh. Bukan juga berarti aku pengin masukin anakku disitu * siapa yang nggak, hi,hi,hi*

Kadang kadang aku mikir, secara (minta kata lainnya dungg) semua orangtua pasti ngasi anak anaknya yang terbaik *tapi jangan terus dimanfaatin buat pemerasan dong* uda pasti pengin anaknya dapat pendidikan yang terbaik mau dia mampu atau nggak. Ya , aku dan suamiku merasa menjadi orang yang cukup mensyukuri nikmat yang kami terima, dan faktor anak yang cuma atau baru satu itu aja, nglihat harga harga sekolah yang punya kurikulum agak lumayan kok mahaaaaaaaaaaaal banget, merasa giris dan ngilu *opo tho bahosone*, gimana ama orang orang yang nggak mampu dan anaknya banyak tapi punya keinginan buat maju. *ingat SD negeri aja sekarang ada istilah unggulan lho, yang ujung ujungnya juga....?*

Aduuuh Toloong!!!! eh *tengak tengok* mau minta tolong ama siape?
Tiket dah di issued. Semoga semua lancar. Amin.

Sunday, April 27, 2008

Herbie dan obsesi para laki lakiku



Ini lho yang dicintai anakkyu ...
Herbie ,saudara saudara. Hampir semua filmnya udah dia tonton. mulai dari Herbie goes monte Carlo, Herbie Goes Banana, Herbie The Love Bug sampai yang paling mutakhir Herbie Fully Loaded yang dibintangi ama Lindsey Lohan *Halah, sampai ngos ngosan aku nyebutinnya*.

Sampai jenis VWnya pun dia tahu, VW bettle tahun 1963.

Yang paling gawat adalah sampai dia terobsesi mengendarai si kodok ini. Gara gara film film diatas *terkutuk kalian (para film )* dia jadi terobsesi jadi racer, sekali lagi dengan si kodok itu juga.
Dan dia nggak berhenti sampai disitu saja. Setiap diberi kesempatan buat beli mainan , most of them adalah replika dari VW kodok dengan tahundan model yang sama. Walaupun kadang kadang nasib para mainan itu mengenaskan, yang protol lah, yang dikasi orang lah, yang ilang lah.

Dan ketika replika ini dan juga situs situs di intenet tentang Herbie ini tidak memuakannya, dia mulai membujuk sang papa untuk membeli mobil ini. Dulu si papa masih berfikir logis. Tapi nggak tau kenapa akhir akhir ini dia sering banget kalau lagi browsing nyari mobil ini, dan harus tahun sekitaran 1963. Katanya kalau bisa punya , dia mau dandanin sendiri. Sudah keracunan Herbie juga dia. Dan ketika melihat si papa nyari nyari VW kodok tersebut, dengan pasti anakku mengklaim, bahwa setelah dia dewasa itu mobil akan menjadi miliknya. Daaa....????

Sekarang masalahnya mobilnya mana?????????

Untuk menetralkan suasana, mama akhirnya mengambil tindakan. Keinginan para lelaki ini akan VW kodok bisa dipenuhi setelah :
1. Semua kebutuhan utama terpenuhi.
2. Mobil keluarga yang pantas sudah ada.
3. Kebutuhan sekunder sudah terpenuhi, dan yang paling penting
4. Kalau ada rejeki nganggur dan....kalau mama ikhlas.

Fair enough kan? Harus!!!!!


Anzac Day dan Hari Pahlawan kita

Kemarin hari jumaat tanggal 25 Mei , disini dirayain Anzac Day. Semacam hari pahlawan . Tahun kemarin nggak sempet lihat Parade di City. Kemarin kita sengaja berangkat pagi buat nglihat parade di Quuen street yang dimulai jam 10 pagi.

Sebenernya parade itu sih biasa aja, nggak ada yang spesial, cuma barisan veteran yang mewakili ranting ranting wilayah tertentu dan veteran veteran angkatan angkatan yang berbeda beda dalam tugasnya di tempat yang berbeda beda pula di masa lalu. Tapi yang bikin spesial bukan karena parade itu diselingi oleh marching band atau kelompok kelompok pemuda yang juga ikut berpartisipasi, tetapi lebih pada semangat yang dijiwai oleh generasi yang sekarang, yang tidak pernah menghadadapi perang. Bagaiman generasi generasi mudanya, berjajar di sepanjang jalan, setiap veteran veteran (yang nggaak jarang dituntun atau naik kursi roda) itu lewat, aplause yang sangat luar biasa diberikan oleh para generasi muda ini terhadap orang orang tua yang diteladaninya.

Aku memandang raut wajah para penonton yang ada di pinggir jalan, ada yang terharu, bangga dan hampir semuanya menunjukkan sikap terima kasih terhadap para veteran tersebut. Tidak ada sedikitpun terdengar suara celaan atau hinaan.

Aku jadi teringat para veteran yang ada di negara kita. Kadang kasian aku melihat mereka, kalau yang sudah berpangkat tinggi waktu pensiun si nggak perlu dibahas. Saking tidak adanya apresiasi dari kita generasi mudanya (aku nggak bilang pemerintah lho), kadang kadang kalau kita nglihat kakek kakek yang tua memakai seragam tuanya dengan berbagai lencana di dadanya, kenapa yang terlihat pada kita cuma kebanggaan semu para kakek (baca veteran) itu atas masa lalunya. Mungkin juga karena kurangnya rasa penghormatan kita pada beliau beliau itu, dan tidak adanya penghargaan atau sikap terima kasih kita pada mereka kali yaa...


Maaf kalau salah

Down to Earth

Aku semakin sadar kalau semakin tinggi pohon, semakin kencang angin bertiup. Tapi juga kita harus ingat falsafah padi, semakin berisi semakin merunduk.* Masalahnya pohon ama rumpun padi kan beda ketinggian, he,he,he*

Aku sering banget merhatiin orang orang (Indonesia) , kayanya banyak banget yang kalau dikasi rejeki (posisi) sedikit, terus sombong atau ekstrimnya nginjek orang lain. Pernah dulu aku dikasi nasehat, itu adalah ciri orang yang nggak mau belajar karena sudah merasa pintar dengan apa yang dia punya *kasarnya low education*. Dan semoga kita semua dijauhkan dari sifat dan sikap itu.

Tapi aku juga sering ketemu sama orang orang yang dikasi rejeki lebih bahkan dibanding orang lain *Ingat prinsip diatas langit masih ada langit*, tapi malah lebih down to earth dibanding orang orang yang dibawahnya *no offense*. Bagaimana mereka menjaga sikap, bagaimana dia bertutur kata, bagaimana dia mendidik anak anaknya, bagaimana dia menunjukkan sikap, semua sangat terjaga, dia bisa amenyampaikan kepentingannya atau kelompoknya tanpa menyakiti atau menzalimi orang lain. Kasih sayangnya pada orang orang sekitarnya, itu semua menunjukkan banget kematangan berpikir dan mental beliau beliau ini.

Down to earth, emang bukan kata yang mudah diejawantahkan. Tapi bukan berarti tidak mungkin tho ...??

Dan aku baru saja ketemu dengan orang yang demikian.Aku ikut merasa bangga mengenal beliau. Supaya itu bisa menjadi pelajaran hidup buat aku dan keluargaku.

Latihan sabar ngadepin rutinitas kesibukan papa

Dari kemarin mama ama Izhhar lagi latihan buat kalau pulang ke Indo . Papa sibuk dari pagi baru pulang sampai malem.

Thursday, April 24, 2008

Nostalgia di Medan

Barusan nelpon temanku di Medan *Hallo Dik Hermin*, salah satu teman seperjuanganku di Medan selain Mbak Anna Robin, ama Bu Aidil. Dik Hermin ini yang dulu dengan suka rela, aku jadiin temen ketika, aku mulai nekat nyetir pertama kali di jalan raya di Medan *yang terkenal itu*.
Padahal waktu itu dia sendiri belum begitu bisa nyetir mobil saat itu, tapi dia menawarkan diri (tepatnya rela mengorbankan diri) menemani aku yang ketakutan (yang atas desakan suamiku yang mengharuskan aku memanfaatkan SIM ku yang sudah hampir 3 tahun nganggur, cuma karena aku nggak berani).

Suami Dik Hermin ini bisa dibilang si bungsu dari PCPM yang ada di Medan pada saat itu, sedang suamiku 2 tingkat diatasnya. Aku ama dia, biasanya plus Bu Aidil kadang kadang Mbak Anna ini hobby banget yang namanya menjelajah belantara dari Pajak ke Pajak (pasar), apalagi yang namanya pajak Ikan (bukan pasar ikan) karena disini pusatnya garmen, mulai dari kain sampai baju muslim seperlengkapannya, dari yang import dari Perancis sampai Tasik, semua ada . Bu Aidil selalu dengan alasan buat ngasi saudara saudara berhasil membujuk kita semua ke 'surga' itu. Dik Hermin sebagai calon Disaigner (dia jago banget bikin baju pasca less di Moda), sangat suka melihat berjenis jenis kain yang ditawarkan disana. Mbak Anna ? Kayanya dia nggak terlalu gila shopping kaya aku *khususnya*, dia itu jenis orang yang belanja kalau perlu, nggak kaya aku, belanja kalau pengin.
Tapi aku ingat banget dia ngajarin aku slogan belanja ini
"Mending nyesel beli daripada nyesel nggak beli".

Sekarang aku disini (Bane), bu Aidil pindah di Jember, tinggal Mbak Anna dan Dik Hermin yang disana. Seru banget kalau lagi nelpon denger cerita cerita tentang teman teman (atau Bos bos) yang ada disana.

Jadi kangen nih, pengin makan di tenda biru...